Oleh: Ahmad Kamaludin Afif, M.M., Gr.
Sebagian orang akan terbayang pada jamur, terutama yang tumbuh di batang pohon atau di tanah setelah hujan. Cendawan adalah organisme yang termasuk ke dalam kingdom fungi dan tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Cendawan juga dikenal dengan istilah jamur atau kulat. Meskipun terdapat beberapa jamur yang merugikan, sebagian besar jamur/ cendawan nyatanya memberikan manfaat untuk manusia.
Dalam dua tahun terakhir, sekolah cendekia BAZNAS intens mengembangkan jenis jamur yang kaya manfaat yaitu jamur tiram. Jamur tiram dengan nama latin (Pleurotus ostreatus) ini memiliki ciri-ciri tudung tubuh berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang atau payung dengan warna putih hingga krem. Jenis fungi ini dibudidayakan pada lahan kebun sekolah di rumah jamur berukuran 6 x 10 meter yang terbuat dari bambu dengan paranet hitam untuk mempertahankan suhu/ kelembaban udara.
Budidaya jamur tiram menjadi bagian pembelajaran prakarya yang terintegrasi dalam program adiwiyata sekolah.
Saat ini, setiap siswa jenjang SMP-SMA di SCB mendapat edukasi memproduksi komoditasyang kaya manfaat berbasis pertanian, salah satunya jamur tiram. Mereka mempelajari identifikasi-morfologi-karakteristik jamur tiram, memahami cara hidup/ media tumbuh, produksi bibit, menyimpan pada suhu yang sesuai, merawat, cara panen, packaging hingga digital marketing. Tentu para siswa sangat antusias, karena pembelajaran ini didominasi praktek langsung dan berbasis project, serta dilakukan menembus batas-batas dinding kelas yang kadang membuat mengantuk. Rumah jamur menjadi ruang kelas kedua yang lebih hidup bagi para siswa.
Budidaya jamur menjadi salah satu pilihan pembelajaran karena selain memberikan manfaat langsung berupa hasil panen yang kaya nutrisi, budidaya komuditas ini mengajarkan tentang inovasi lingkungan. Jamur tiram ini ditumbuhkan melalui media tanam berupa serbuk gergaji yang merupakan limbah dari hasil pemotongan kayu. Biasanya serbuk gerjaji ini dibuang atau dibakar oleh pemilik tempat pemotongan kayu untuk menghilangkan sisa produksi. Melalui inovasi yang tepat, limbah serbuk ini diracik bersamaan dengan beberapa bahan lain dari alam sehingga menjadi media tanam berbentuk baglog yang subur bagi pertumbuhan jamur tiram.
Di rumah jamur SCB, dalam satu siklus (3-4 bulan) budidaya dapat menghasilkan panen sekitar 500-600 kilogram jamur tiram segar.
Sehingga dalam satu tahun dapat dihasilkan sekitar 1,5 Ton. Jumlah ini masih dapat ditingkatkan karena kapasitas rumah jamur yang mampu menampung 5000-6000 Baglog. Sementara hasil saat ini didapatkan dari 3000 Baglog jamur. Budidaya jamur tiram ini menjadi salah satu inovasi lingkungan yang sejalan dengan program adiwiyata. Program yang mengajarkan tentang upaya menjaga, merawat dan meningkatkan kelestarian alam secara berkelanjutan.
Program ini dapat meningkatkan rasa cinta para siswa terhadap lingkungan. Upaya untuk menumbuhkan perilaku ramah lingkungan. Apalagi saat mereka terlibat membuat racikan media tanam, mengisolasi bibit jamur hingga merawat baglog (media tanam jamur). Hari-hari yang berganti adalah masa di mana hati-hati kecil kita menantikan munculnya pertumbuhan benih-benih putih, tunas jamur tiram. Cendawan yang selalu dinanti.