Oleh: Ahmad Kamaludin Afif, M.M., Gr.
Salah satu potensi dan tantangan yang ditemui di Sekolah Cendekia BAZNAS adalah air. Potensi karena setidaknya terdapat lima aliran sungai kecil yang membelah hamparan 1,5 hektar lahan sekolah. Dalam kondisi normal, sahutan gemiricik ini ibarat instrument relaksasi alami yang terdengar di lapangan futsal hingga halaman kelas dan laboratorium IPA sebagai salah satu muara empang sekolah. Menjadi tantangan, bilamana musim kemarau tiba, air menjadi sesuatu sangat berharga. Sumur-sumur mengering, sementara civitas dan warga sekitar dalam penantian turunnya tetesan berkah di antara celah awan. Di sinilah urgensinya. Rasanya tidak cukup hanya menghemat air. Tetapi melakukan berbagai cara dalam penanggulangan potensi/tantangan kekeringan, yaitu Konservasi air.
Konservasi air adalah upaya untuk menggunakan air secara bijak dan efisien agar sumber daya air tetap tersedia dan terjaga untuk kebutuhan sekarang dan masa depan. Tujuan utama konservasi air adalah mencegah pemborosan, menjaga kualitas air, serta melestarikan ekosistem yang bergantung pada air. Lebih lanjut, konservasi ditingkatkan dari menikmati irama air yang mengalir bebas, menjadi menahannya selama mungkin sumber kehidupan ini pada tempat tertentu. Kemudian, air ini dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas.
Di SCB, konservasi air dioptimalkan untuk edukasi budidaya perikanan bersama para santri melalui kegiatan intrakurikuler prakarya dan berbagai project edukatif. Bukan sembarang budidaya, tapi penggunaan rekayasa teknologi Bioflok. Sistem bioflok adalah metode budidaya perikanan yang mengandalkan pengolahan limbah organik di dalam kolam menjadi sumber pakan tambahan melalui aktivitas mikroorganisme. Pada sistem ini terdapat peran aerator untuk menjaga stabilitas air, menguraikan limbah hingga pertumbuhan probiotik (bakteri baik). Hasil penguraian membentuk flok, yaitu gumpalan kecil yang terdiri dari bakteri, alga, dan bahan organik sebagai sumber makanan alami ikan.
Jika budidaya dalam kolam konvensional, padat tebar ikan hanya berjumlah 5-20 ekor per meter kubik, dalam sistem bioflok ini kepadatan ikan bisa mencapai 100 ekor per meter kubik. Naik sekitar 500%. Quantum productivity. Nyatanya, secara empiris, SCB telah membuktikan sistem ini lebih dari tiga tahun terakhir. Hampir setiap tahun SCB mampu memproduksi lebih dari 3000 kilogram ikan konsumsi dari kolam bioflok ini. Seluruh hasil panen digunakan untuk kebutuhan makan santri melalui dapur sekolah dan sebagian untuk pembelajaran kewirausahaan.
Inovasi dapat meningkatkan hasil budidaya esensial. Sentuhan tangan dingin para pejuang pendidikan menjadikan hamburan air yang terbuang menjadi limpahan berkah yang mampu menghidupi ratusan jiwa di bumi cendekia. Teknologi bioflok mentransformasi dari efesiensi konservasi air menjadi memaksimalkan hasil. Pembelajaran dan pengalaman bermakna kini dan masa depan.